You are here

MEMBANGUN TABIAT

Submitted by jordan.gultom on July 15, 2020 - 12:05am
Date of Content: 
Wednesday, July 15, 2020

adventbenhil.org : Renungan Pagi -

Renungan Pagi

RABU, 15 JULI 2020

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.—Roma 8:1.

Pendidikan yang benar tidak mengabaikan pengetahuan yang bersifat ilmiah atau pengetahuan kesusastraan; tetapi di atas informasi mempunyai kuasa yang bernilai; di atas kuasa adalah kebajikan; di atas pencapaian intelektual adalah tabiat. Dunia ini tidak begitu memerlukan orang-orang pandai lebih dari pada orang yang mempunyai tabiat yang agung. Pendidikan memerlukan orang yang kesanggupannya dikendalikan oleh prinsip yang teguh. 

"Hikmat adalah hal yang utama; perolehlah hikmat." "Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan..." (Ams.4:7;15:2). Pendidikan yang benar mengajarkan kebijaksanaan ini. Pendidikan mengajarkan penggunaan yang terbaik, bukan hanya satu, melainkan segala kuasa dan kecakapan. Dengan demikian pendidikan yang benar mencakup segenap lingkaran kewajiban—kepada diri kita sendiri, kepada dunia, dan kepada Allah. 

Pembangunan tabiat adalah tugas terpenting yang pernah dipercayakan kepada manusia; dan belum pernah sebelumnya hal ini dipelajari lebih penting dari pada sekarang ini. Belum pernah ada generasi manusia sebelumnya yang menghadapi masalah yang begitu penting; belum pernah sebelumnya anak-anak muda, pria dan wanita, menghadapi bahaya yang begitu besar dari pada yang mereka hadapi sekarang ini. 

Pada masa seperti ini, apakah kecenderungan pendidikan yang diberikan? Kepada motif apakah penarikan paling sering dilakukan? Jawabnya, kepada kepentingan diri sendiri. Banyak pendidikan yang diberikan bertentangan dengan nama yang sebenarnya. Dalam pendidikan yang benar, cita-cita yang mementingkan diri sendiri, ketamakan untuk mendapatkan kuasa, tidak menghargai hak=hak dan kebutuhan manusia, itulah kutuk bagi dunia kita, yang menjadi kontra pengaruh. Allah mempunyai rencana hidup bagi setiap orang. Masing-masing harus meningkatkan talentanya dengan sebaik-baiknya, dan setia melakukannya; apakah karunia itu sedikit atau banyak, haruslah menjadi kemuliaan. Dalam rencana Allah tidak ada tempat bagi persaingan yang mementingkan diri sendiri. Mereka yang "...mengukur dirinya sendiri dengan ukuran mereka sendiri dan membandingkan dirinya dengan diri mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka." (2Kor.10:12). Apa saja yang kita lakukan, baiklah kita lakukan "dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah..." (1Pet.4:11). Hendaklah melakukan "....dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hambanya" (Kol.3:23,24). Alangkah mulianya pelayanan yang dilakukan dan pendidikan yang diperoleh untuk melaksanakan prinsip ini. Tetapi, betapa berbedanya dengan pendidikan yang diberikan sekarang ini! Dari sejak usia dini, sang anak sudah diajak untuk menyamai dan bersaing; hal ini memupuk sifat mementingkan diri sendiri, akar dari segala kejahatan.—Seri Membina Keluarga, jld.3, hlm.209,210.

Facebook comments